Minggu, 25 Maret 2012

Bentuk Profesionalisme Profesi Guru

Pada bagian ini kita akan melihat sedikit tentang arti profesionalisme dan juga mata pencaharian. Namun sebelumnya saya ingin mengajak Anda untuk mengerti arti kata guru. Guru, berasal dari kata Sansekerta “gur-u” yang berarti “mulia, bermutu dan juga memiliki kemuliaan” (Racmat Sugito dalam Kompas, 1 September 2007). Gelar yang diberikan kepada “guru” memang sangat mendalam jika dilihat dari arti kata aslinya. Jika demikian, maka benar bahwa seorang guru yang mulia, bermutu dan memiliki kemuliaan seharusnya juga memiliki profesionalisme dan tidak sebatas pada hanya sekedar tempat untuk mencari sesuap nasi, demi mendapatkan gaji untuk mempertahankan hidup.

Terdapat dua konsep yang berkaitan dengan kata profesi jika ditinjau dari aspek sosiologi, yaitu: yang berdasarkan pada sifat-sifat yang dilekatkan pada pribadi dan berdasarkan pada teori struktural-fungsional. Jika profesi guru dilihat dari sifat-sifat yang melekat pada pribadinya, maka seorang guru harus memiliki standar profesi seperti yang ada pada dokter dan ahli hukum. Kedua profesi, dokter dan ahli hukum, disebut sebagai profesi karena mereka memiliki standar seperti harus mengikuti pendidikan dan latihan, stratifikasi, organisasi formal, pelayanan kepada publik dan juga memiliki kode etik yang mengatur mereka secara jelas dan tegas. Karena itu, dalam arti pertama ini, profesi ialah sifat khusus yang dilekatkan pada pribadi seseorang, entah dia sebagai dokter, ahli hukum dan juga guru. Sedangkan jika profesi dilihat berdasarkan teori struktural-fungsional, maka profesi dilihat sebagai suatu bentuk pelayanan yang melindungi masyarakat umum. Sejak tahun 1960-an, profesi ini hanya dikenakan kepada dokter karena merekalah yang memiliki kapasitas melayani dan melindungi masyarakat umum. Hal ini tentu berkaitan dengan tugas mereka dalam dunia kedokteran, yang berusaha membuat manusia hidup terutama dalam soal kelahiran.


PEKERJAAN GURU: SEBAGAI PROFESI
Pertanyaan lebih lanjut, apakah pekerjaan guru adalah sebagai profesi? Berdasarkan keterangan di atas, kita dapat mengafirmasi bahwa memang menjadi guru adalah sebuah profesi. Tetapi profesionalitas seorang guru harus dikaitkan dengan apa yang menjadi profesi (telah dihidupi dan dijalankan), dalam dunia kedokteran dan hukum (bandingkan di atas). Orang yang berprofesi sebagai guru seharusnya memiliki dan mengikuti sebuah jenjang pendidikan dan pelatihan yang panjang, memiliki stratifikasi, termasuk dalam sebuah organisasi formal, demi pelayanan kepada publik, memiliki kode etik yang mengatur secara jelas serta juga memilki keahlian di bidang pekerjaan sebagai guru.
Apakah para guru (atau juga dosen) di Indonesia telah memiliki standar seperti yang dituntut secara profesional? Di satu sisi kita dapat mengaakan ya dan di sini lain kita dapat mengatakan belum. Kita dapat mengatakan ya, karena jika dilihat dari sejarah proses pembelajaran dan pengajaran di sekolah, banyak guru yang telah menghayati perannya dalam mengajar sebagai sebuah pelayanan dan pengabdiannya kepada negara dan kepada masyarakat. Mengajar dengan sepenuh hati, dengan penuh semangat, dengan penuh perhatian dan tanggung jawab. Setiap pagi mereka telah lebih dulu datang ke sekolah, mempersiapkan pelajaran dan menunggu siswa-siswi di pintu masuk sekolah. Mereka berusaha mengenal siswa-siswinya dengan baik, dan malah mereka juga berusaha meengenal orangtua dan lingkungan di mana siswa itu hidup atau berada. Ada semacam relasi dekat antara sekolah, guru, siswa, orangtua dan lingkungan. Walaupun dengan gaji di bawah standar, tetapi mereka menampakkan dan menghayati tanggung jawab mereka sebagai guru yang sungguh-sungguh profesional.

Ciri khas di atas mulai terasa berbeda dengan para guru sejak sepuluh tahun terakhir. Nampaknya jurang antara peran guru sebagai profesi dan peran guru sebagai tenaga kerja atua buruh semakin tajam. Orang-orang mendaftar diri untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) bukan dengan motivasi menjadi seorang profesi (karena latar belakang pendidikan bukan terarah kepada profesionalisme) tetapi demi mendapatkan pekerjaan. Banyak guru yang hampir selalu menuntut kenaikan gaji banana. Jika tidak dipenuhi oleh sekolah atau negara, maka mereka akan gambek, tidak mengajar dan malah menuntut secara hukum. Proses hukum adalah jalan yang benar untuk menyelesaikan masalah tetapi terkadang para guru mencurahkan tenaga untuk hal ini dan melupakan tanggung jawab untuk mengajar. Memang kita sadari juga bahwa seorang pekerja harus mendapat upah secara adil. Kita dapat mengatakan bahwa jika ada seorang guru yang jatuh pada konsep ini, maka seorang guru dapat disebut sebagai buruh yang bekerja di sekolah untuk mendapatkan upah. Karena itu, seorang gurupun harus ada pembagian yang jelas antara jam kerja, lamanya kerja, jenis kerja dengan gaji yang harus didapat. Pertanyaan kita adalah apa bedanya antara guru dengan buruh bangunan atau buruh yang kerja di jalan raya?

Ini berbeda dengan para guru sebelumnya selalu ingin agar anak didiknya menjadi manusia, menjadi orang hebat yang lebih tinggi tinggi jenjang studi dan pangkatnya dari mereka sendiri. Walaupun mereka tidak mengenal kata profesi tetapi mereka telah melaksanakan itu dengan penuh disiplin. yang bertujuan untuk Peranan guru dalam mengajar di sekolah dihadapkan pada dua hal yang di satu sisi bertentangan tetapi di sisi lain saling menyatu di dalam pribadi sang guru, yaitu: antara pengabdian dan pekerjaan. Pengabdian mereka lebih kepada suatu usaha melayani, malah melayani tanpa menuntut imbalan. Pengabdian selalu tertuju kepada kemajuan orang lain (atau masyarakat) tanpa mementingkan apakah ada nilai tambahan berupa gaji kepada diri sendiri atau tidak. Pengabdian selalu bersifat sosial, pelayanan dan tidak menuntut upah maksimal sedangkan pekerjaan lebih kepada kewajiban dan perhitungan ketat tentang upah kerja. Pengabdian bagi mereka adalah suatu ciri khas dari profesionalisme ddan yang dapat memperkaya atau menjadi nilai tambah dari profesi sedangkan pekerjaan mengajar dilihat hanya karena demi gaji dan upah justru mengurangi arti dari proffesi.

Dengan melihat muatan yang ada dalam kata profesionalisme, maka seorang guru seharusnya mempunyai kemampuan dalam bidang pengajaran, memiliki pengetahuan yang luas tentang bidang yang diajarkan (aspek cogniti dan skill) serta memiliki semangat pengabdian murni kepada masyarakat, bukan karena demi mendapatkan gaji atau upah, tetapi penngabdian demi cinta dan belas kasih kepada perkembangan dan kemajuan masyarakat. Guru yang mengajar hanya demi mendapatkan gaji di akhir bulan akan tidak utuh pengabdiannya kepada maasyarakat melalu sekolah. Apalagi jika itu didukung oleh tuntutan kenaikan gaji secara terus menerus yang belum dikabulkan. Tidak heran jika guru hanya ke sekolah untuk tanda tangan kehadirannya dan juga tidak mempersiapkan bahan pengajarannya. Atau guru memasuki kelas, tetapi kepada siswa, mereka hanya memberikan buku dan menyuruh seorang siswa menulis di papan tulis, dan siswa yang lainnya mencatatnya di buku tulis masing-masing. Ada juga guru yang tidak mencari bentuk-bentuk pengajaran yang membuat siswa aktif belajar. Mereka at home pada metode lama, bahwa mereka adalah sumber pengetahuan dan siswa tidak tahu apa-apa dan siap menerima apa yang mereka ajarkan.

Kita tidak bisa menutup mata kepada banyak guru yang mengajar penuh semangat dan selalu membuat suasana kelas menjadi hidup. Banyak dari mereka yang ahli dalam menerapkan metode belajar dan mengajar tanpa mempelajari sebelumnya. Bagi mereka, ini adalah suatu bentuk pengabdian yang baik dan mendukung ciri profesionalisme mereka sebagai guru. Mereka sungguh-sungguh sebagai guru yang berprofesi sebagai guru, dan bukan bekerja sebagai guru yang berprofesi sebagai tukang bisnis, atau mencari nafkah. Ada juga satu hal yang sungguh memprihatinkan: terdapat di antara para guru yang ditugaskan oleh negara mengajar di sekolah, tetapi lebih 70 % dia bekerja di ladang bisnis, di toko miliknya, di galon minyak dan lain. Bagaimana mungkin tenaganya akan dicurahkan kepada profesinya sebagai guru, jika lebih banyak waktu dan tenaga dicurahkan untuk kepentingan bakat dan hoby pribadi dan keluarga?


GURU YANG PROFESIONAL
Untuk menjawab tentang tantangan ketidakprofesionalan seorang guru, maka pemerintah bersama masyarakat seharusnya berusaha menjamin pendidikan bagi para calon guru. Ini sangat penting karena dengan mendidik guru yang baik, kita akan mendapat hasil yang baik pula dari lulusan siswa akan sangat berguna bagi masyarakat dan negara. Perguruan tinggi yang “mencetak” para calon guru seharusnya mendidik mereka untuk sungguh profesional dan menjadi pengabdi-pengabdi unggul kepada masyarakat. Nampaknya aspek ini masih kurang diperhatikan di Perguruan Tinggi. Mereka lebih menfokuskan kepada perluasan wawasan dari mahasiswanya tanpa melatih mereka untuk sungguh mengabdi sebagai seorang yang berprofesi dalam tugas mereka.
Untuk bisa menghasilkan seorang guru yang berprofesional ke masa depan, pemerintah, masayarakat dan pihak universitas seharusnya memperhatikan beberapa aspek seperti: kualifikasi akademik – sebuah gelar doktor atau hukum – yakni, universitas – akademi / lembaga, ahli dalam pengetahuan khusus di bidang yang satu dan profesional serta tidak juga meninggalkan pengetahuan pada bidang-bidang kehidupan yang lainnya, memiliki ketrampilan praktis dan sastra dalam kaitannya dengan profesi, berkualitas tinggi dalam bekerja (contoh): ciptaan, produk, layanan, presentasi, konsultasi, sumber daya serta mampu melakukan penelitian, penguasaan administrasi, pemasaran atau lainnya, punya standar etika profesional, tingkah laku dan bekerja sambil melakukan kegiatan-kegiatan dari satu profesi (sebagai karyawan, wiraswasta orang, karir, perusahaan, bisnis, perusahaan, atau kemitraan / persekutukan / kolega, dll)
Rasanya bukan lagi jamannya untuk menerima para calon guru yang tidak punya keahlian dalam mendidik (dan juga sekaligus membina). Perpaduan antara keahlian dan juga pengabdian yang tulus dan murni demi kemajuan masyarakat dan pribadi siswa adalah hal yang sangat penting. Sebaiknya guru yang mengajar hanya semata-mata demi mendapatkan gaji atau upah, atau hanya demi tempat mencari nafkah, lebih baik tidak akan pernah diterima untuk mengajar karena hanya akan menjadi halangan dan kerugian besar bagi kemajuan siswa dan kemajuan dalam dunia pendidikan. 

Sumber : http://www.sriudin.com/2010/06/profesionalisme-guru.html

Minggu, 11 Desember 2011

Meraih Kebahagiaan Hakiki

Tak ada orang yang ingin hidupnya tidak bahagia. Semua orang ingin bahagia. Namun hanya sedikit yang mengerti arti bahagia yang sesungguhnya. Hidup bahagia merupakan idaman setiap orang, bahkan menjadi simbol keberhasilan sebuah kehidupan.
Tidak sedikit manusia yang mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya. Menggantungkan cita-cita menjulang setinggi langit dengan puncak tujuan tersebut adalah bagaimana hidup bahagia.
Hidup bahagia merupakan cita-cita tertinggi setiap orang baik yang mukmin atau yang kafir kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Apabila kebahagian itu terletak pada harta benda yang bertumpuk-tumpuk, maka mereka telah mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya. Akan tetapi tidak dia dapati dan sia-sia pengorbanannya.
Apabila kebahagian itu terletak pada ketinggian pangkat dan jabatan, maka mereka telah siap mengorbankan apa saja yang dituntutnya, begitu juga teryata mereka tidak mendapatkannya. Apabila kebahagian itu terletak pada ketenaran nama, maka mereka telah berusaha untuk meraihnya dengan apapun juga dan mereka tidak dapati. Demikianlah gambaran cita-cita hidup ingin kebahagiaan.
Apakah tercela orang-orang yang menginginkan demikian? Apakah salah bila seseorang bercita-cita untuk bahagia dalam hidup? Dan lalu apakah hakikat hidup bahagia itu? Pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan jawaban agar setiap orang tidak putus asa ketika dia berusaha menjalani pengorbanan hidup tersebut.

Hakikat Hidup Bahagia
Mendefinisikan hidup bahagia sangatlah mudah untuk diungkapkan dengan kata-kata dan sangat mudah untuk disusun dalam bentuk kalimat. Dalam kenyataannya telah banyak orang yang tampil untuk mendefinisikannya sesuai dengan sisi pandang masing-masing, akan tetapi mereka belum menemukan titik terang.
Ahli ekonomi mendefinisikannya sesuai dengan bidang dan tujuan ilmu perekonomian. Ahli kesenian mendefinisikannya sesuai dengan ilmu kesenian. Ahli jiwa akan mendefinisikannya sesuai dengan ilmu jiwa tersebut. Mari kita melihat bimbingan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam tentang hidup bahagia.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Kamu tidak akan menemukan satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling cinta-mencinta kepada orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya walaupun mereka adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka dan keluarga-keluarga mereka. Merekalah orang-orang yang telah dicatat dalam hati-hati mereka keimanan dan diberikan pertolongan, memasukkan mereka kedalam surga yang mengalir dari bawahnya sungai-sungai dan kekal di dalamnya. Allah meridhai mereka dan mereka ridha kepada Allah. Ketahuilah mereka adalah (hizb) pasukan Allah dan ketahuilah bahwa pasukan Allah itu pasti menang".(Al-Mujadilah:22)
Dari ayat ini jelas bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan orang-orang yang bahagia dan mendapatkan kemenangan di dunia dan di akhirat. Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir dan orang-orang yang menjunjung tinggi makna al-wala’ (berloyalitas) dan al-bara’ (kebencian) sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
As-Sa’di dalam tafsir beliau mengatakan: “Orang-orang yang memiliki sifat ini adalah orang-orang yang telah dicatat di dalam hati-hati mereka keimanan. Artinya Allah mengokohkan dalam dirinya keimanan dan menahannya sehingga tidak goncang dan terpengaruh sedikitpun dengan syubhat dan keraguan. Dialah yang telah dikuatkan oleh Allah dengan pertolongn-Nya yaitu menguatkanya dengan wahyu-Nya, ilmu dari-Nya, pertolongan dan dengan segala kebaikan.
Merekalah orang-orang yang mendapatkan kebagian dalam hidup di negeri dunia dan akan mendapatkan segala macam nikmat di dalam surga dimana di dalamnya terdapat segala apa yang diinginkan oleh setiap jiwa dan menyejukkan hatinya dan segala apa yang diinginkan dan mereka juga akan mendapatkan nikmat yang paling utama dan besar yaitu mendapatkan keridhaan Allah dan tidak akan mendapatkan kemurkaan selama - lamanya dan mereka ridha dengan apa yang diberikan oleh Rabb mereka dari segala macam kemuliaan, pahala yang banyak, kewibawaan yang tinggi dan derajat yang tinggi. Hal ini dikarenakan mereka tidak melihat yang lebih dari apa yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala”.
Abdurrahman As-Sa’di dalam mukadimah risalah beliau Al-Wasailul Mufiidah lil hayati As-Sa’idah hal. 5 mengatakan: “Sesungguhnya ketenangan dan ketenteraman hati dan hilangnya kegundahgulanaan darinya itulah yang dicari oleh setiap orang. Karena dengan dasar itulah akan didapati kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki”.
Allah berfirman:
“Barang siapa yang melakukan amal shalih dari kalangan laki-laki dan perempuan dan dia dalam keadaan beriman maka Kami akan memberikan kehidupan yang baik dan membalas mereka dengan ganjaran pahala yang lebih baik dikarenakan apa yang telah di lakukannya”.(An-Nahl: 97)
As-Sa’di dalam Al-Wasailul Mufiidah lil hayati As-Sa’idah halaman 9 mengatakan: “Allah memberitahukan dan menjanjikan kepada siapa saja yang menghimpun antara iman dan amal shalih yaitu dengan kehidupan yang bahagia dalam negeri dunia ini dan membalasnya dengan pahala di dunia dan akhirat”.
Dari kedua dalil ini kita bisa menyimpulkan bahwa kebahagian hidup itu terletak pada dua perkara yang sangat mendasar : Kebagusan jiwa yang di landasi oleh iman yang benar dan kebagusan amal seseorang yang dilandasi oleh ikhlas dan sesuai dengan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Kebahagian Yang Hakiki dengan Aqidah
Orang yang beriman kepada Allah dan mewujudkan keimanannya tersebut dalam amal mereka adalah orang yang bahagia di dalam hidup. Merekalah yang apabila mendapatkan ujian hidup merasa bahagia dengannya karena mengetahui bahwa semuanya datang dari Allah subhanahu wa ta’ala dan di belakang kejadian ini ada hikmah-hikmah yang belum terbetik pada dirinya yang dirahasiakan oleh Allah sehingga menjadikan dia bersabar menerimanya. Dan apabila mereka mendapatkan kesenangan, mereka bahagia dengannya karena mereka mengetahui bahwa semuanya itu datang dari Allah yang mengharuskan dia bersyukur kepada-Nya.
Alangkah bahagianya hidup kalau dalam setiap waktunya selalu dalam kebaikan. Bukankah sabar itu merupakan kebaikan? Dan bukankah bersyukur itu merupakan kebaikan? Di antara sabar dan syukur ini orang-orang yang beriman berlabuh dengan bahtera imannya dalam mengarungi lautan hidup. Allah berfirman;
"Jika kalian bersyukur (atas nikmat-nikmat-Ku ), niscaya Aku akan benar-benar menambahnya kepada kalian dan jika kalian mengkufurinya maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”.(Ibrahim: 7)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Dan tidaklah seseorang di berikan satu pemberian lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim )

Kesabaran itu adalah Cahaya
Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Kami menemukan kebahagian hidup bersama kesabaran”. ( HR. Al-Bukhari)
Mari kita mendengar herannya Rasululah terhadap kehidupan orang-orang yang beriman di mana mereka selalu dalam kebaikan siang dan malam:
"Sungguh sangat mengherankan urusannya orang yang beriman dimana semua urusannya adalah baik dan yang demikian itu tidak didapati kecuali oleh orang yang beriman. Kalau dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya dan kalau dia ditimpa mudharat mereka bersabar maka itu merupakan satu kebaikan baginya”.
As-Sa’di rahimahullah mengatakan: ”Rasulullah memberitakan bahwa seorang yang beriman kepada Allah berlipat-lipat ganjaran kebaikan dan buahnya dalam setiap keadaan yang dilaluinya baik itu senang atau duka. Dari itu kamu menemukan bila dua orang ditimpa oleh dua hal tersebut kamu akan mendapatkan perbedaan yang jauh pada dua orang tersebut, yang demikian itu disebabkan karena perbedaan tingkat kimanan yang ada pada mereka berdua”. (Lihat Kitab Al-Wasailul Mufiidah lil hayati As-Sa’idah halaman 12).
Dalam meraih kebahagiaan dalam hidup manusia terbagi menjadi tiga golongan.
Pertama, orang yang mengetahui jalan tersebut dan dia berusaha untuk menempuhnya walaupun harus menghadapi resiko yang sangat dahsyat. Dia mengorbankan segala apa yang diminta oleh perjuangan tersebut walaupun harus mengorbankan nyawa. Dia mempertahankan diri dalam amukan badai kehidupan dan berusaha menggandeng tangan keluarganya untuk bersama-sama dalam menyelamatkan diri. Yang menjadi syi’arnya adalah firman Allah;
"Hai orang-orang yang beriman jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka".(At-Tahrim: 6)
Karena perjuangan yang gigih tersebut, Allah mencatatnya termasuk kedalam barisan orang-orang yang tidak merugi dalam hidup dan selalu mendapat kemenangan di dunia dan di akhirat sebagaimana yang telah disebutkan dalam surat Al- ‘Ashr 1-3 dan surat Al-Mujadalah 22. Mereka itulah orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan merekalah pemilik kehidupan yang hakiki.
Kedua, orang yang mengetahui jalan kebahagian yang hakiki tersebut namun dikarenakan kelemahan iman yang ada pada dirinya menyebabkan dia menempuh jalan yang lain dengan cara menghinakan dirinya di hadapan hawa nafsu. Mendapatkan kegagalan demi kegagalan ketika bertarung melawannya. Mereka adalah orang-orang yang lebih memilih kebahagian yang semu daripada harus meraih kebahagian yang hakiki di dunia dan di akhirat kelak. Menanggalkan baju ketakwaannya, mahkota keyakinannya dan menggugurkan ilmu yang ada pada dirinya. Mereka adalah barisan orang-orang yang lemah imannya.
Ketiga, orang yang sama sekali tidak mengetahui jalan kebahagiaan tersebut sehingga harus berjalan di atas duri-duri yang tajam dan menyangka kalau yang demikian itu merupakan kebahagian yang hakiki. Mereka siap melelang agamanya dengan kehidupan dunia yang fana’ dan siap terjun ke dalam kubangan api yang sangat dahsyat. Orang yang seperti inilah yang dimaksud oleh Allah dalm surat Al-‘Ashr ayat 2 yaitu “Orang-orang yang pasti merugi” dan yang disebutkan oleh Allah dalam surat Al-Mujadalah ayat 19 yaitu “ Partainya syaithon yang pasti akan merugi dan gagal”. Dan mereka itulah yang dimaksud oleh Rasulullah dalam sabda beliau: Di pagi hari seseorang menjadi mukmin dan di sore harinya menjadi kafir dan di sore harinya mukmin maka di pagi harinya dia kafir dan dia melelang agamanya dengan harga dunia.
Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, Di antaranya adalah kebahagian hidup dan kemuliaannya ada bersama keteguhan berpegang dengan agama dan bersegera mewujudkannya dalam bentuk amal shalih dan tidak bolehnya seseorang untuk menunda amal yang pada akhirnya dia terjatuh dalam perangkap syaithan yaitu merasa aman dari balasan tipu daya Allah subhanahu wa ta’ala. Hidup harus bertarung dengan fitnah sehingga dengannya ada yang harus menemukan kegagalan dirinya dan terjatuh pada kehinaan di mata Alllah dan di mata makhluk-Nya.
Wallahu A'lam.

(Dikutip dari http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=1)

Jumat, 09 Desember 2011

Dasar Pengolahan Data



A.    Pengertian Pengolahan Data
  1. ­   Data adalah suatu penggambaran fakta , pengertian instruksi yang dapat disampaikan dan diolah oleh manusia atau mesin. Contoh : data berupa angka , karakter, alphabet, simbol, gambar, suara dll
  2. ­   Pengolahan data adalah Pengubahan atau transformasi simbol-simbol seperti nomor dan huruf untuk tujuan peningkatan kegunaannya.
  3. ­   Pengolahan data menurut George R. Terry, Phd adalah serangkaian operasi informasi yang direncanakan guna mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan. (Martin M. Lipschutz, 1990)
  4. ­   Sedang menurut Gordon B. Davis data adalah sebagai bahan mentah dari informasi yang dirumuskan sebagai kelompok lambang-lambang tidak acak yang menunjukan jumlah atau tindakan-tindakan atau hal (Gordon B. Davis, 1997)

B.     Sistem Pengolahan Data
Sistem Pengolahan Data adalah Sistem yang melakukan pengolahan data.
Contoh : sistem pengolahan data penjualan, sistem pengolahan data pegawai dll.

proses pengolahan data terdiri dari 3 tahapan dasar, yang disebut dengan siklus pengolahan data (data processing cycle), yaitu input, processing dan output.
Tiga tahap dasar dari siklus pengolahan data tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut. Siklus pengolahan data yang dikembangkan (expanded data processirtg cycle) dapat ditambahkan tiga atau lebih tahapan lagi, yaitu origin”ation, storage dan distribut
Siklus pengolahan data yang dikembangkan.
­   Origination. Tahap ini berhubungan dengan proses dari pengumpulan data yang biasanya merupakan proses pencatatan (recording) data ke dokumen dasar.
­   Input. Tahap ini merupakan proses memasukkan data ke dalam proses komputer lewat alat input (input device).
  1. ­   Processing. Tahap ini merupakan proses pengolahan dari data yang sudah dimasukkan yang dilakukan oleh alat pemroses (processing device), yang dapat berupa proses menghitung, membandingkan, mengklasifikasikan, mengurutkan, mengendalikan atau mencari di storage.
  2. ­   Output. Tahap ini merupakan proses menghasilkan output dari hasil pengolahan data ke alat output (output deuice), yaitu berupa informasi.
  3. ­   Distribution. Tahap ini merupakan proses dari distribusi output kepada pihak yang berhak dan membutuhkan informasi.
  4. ­   Storage. Tahap ini merupakan proses perekaman hasil pengolahan ke simpanan luar (storage). Hasil dari pengolahan yang disimpan di storage dapat dipergunakan sebagai bahan input untuk proses selanjutnya. Pada gambar, tampak adanya 2 buah anak panah yang berlawanan arah, menunjukkan hasil pengolahan dapat disimpan di storage dan dapat diambil kembali untuk proses pengolahan data selanjutnya.

C.    Pengolahan Data Pada Komputer
Pengolahan data pada komputer meliputi
1.      Pengumpulan data
     Sistem pengolahan data dirancang untuk mengumpulkan data yang menggambarkan tiap       tindakan internal perusaahaan  dan menggambarkan transaksinya dengan lingkungannya.
2.      Pengubahan Data
 operasi pengubahan data mencakup : pengklasifikasian, penyortiran, pengkalkulasian,
  perekapitulasian, pembandingan.
3.      Penyimpanan Data
Semua data harus disimpan disuatu tempat sampai ia diperlukan. Data tersebut disimpan     dalam berbagai media penyimpanan, dan file yang disimpan disebut database.
4.      Pembuatan Dokumen
Sistem pengolahan data menghasilkan output yang dibutuhkan oleh perorangan atau    kelompok baik di dalam maupun luar perusahaan.

D.    Manfaat Pengolahan Data
Dengan digunakannya pengolahan data elektronik, maka manfaat yang dapat diperoleh adalah meminimalkan kebutuhan tenaga manusia , hal ini karena beberapa pekerjaan dilakukan secara otomatis oleh peralatan bantuan seperti komputer . Keuntungan lain adalah kemampuan komputer untuk memproses data lebih besar, keakuratan yang lebih besar, kecepatan yang lebih besar, fasilitas pengendalian otomatis dan pengolahan secara serentak.
Sebagai contoh :
1.      Pembuatan faktur Penjualan, dengan sudah dimanfaatkannya pengolahan data komputer, maka operator hanya memasukkan jumlah barang yang dipesan, karena nama pelanggan, alamat, harga  sudah ada dalam database dan perhitungan total sudah kita dapatkan dari hasil proses program.
2.      Perhitungan upah dan gaji, dengan sudah dimanfaatkannya pengolahan data komputer, operator hanya menginput banyaknya jam kerja, lembur, bonus atau komisi, hari absen ; dan untuk kode pegawai, nama pegawai, gaji pokok, informasi perhitungan pajak pendapatan, neraca pinjaman dan informasi kumulatif lainnya sudah ada pada database dan program yang memprosesnya.  

Tawakkal Bukan Berarti Pasrah

Tawakal (bahasa Arab: توكُÙ„‎) atau tawakkul berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama Islam, tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.
Imam al-Ghazali merumuskan definisi tawakkal sebagai berikut, "Tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.
Menurut Abu Zakaria Ansari, tawakkal ialah "keteguhan hati dalam menyerahkan urusan kepada orang lain". Sifat yang demikian itu terjadi sesudah timbul rasa percaya kepada orang yang diserahi urusan tadi. Artinya, ia betul-betul mempunyai sifat amanah (tepercaya) terhadap apa yang diamanatkan dan ia dapat memberikan rasa aman terhadap orang yang memberikan amanat tersebut.
Tawakkal adalah suatu sikap mental seorang yang merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Allah, karena di dalam tauhid ia diajari agar meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan segala-galanya, pengetahuanNya Maha Luas, Dia yang menguasai dan mengatur alam semesta ini. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk menyerahkan segala persoalannya kepada Allah. Hatinya tenang dan tenteram serta tidak ada rasa curiga, karena Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana.
Sementara orang, ada yang salah paham dalam melakukan tawakkal. Dia enggan berusaha dan bekerja, tetapi hanya menunggu. Orang semacam ini mempunyai pemikiran, tidak perlu belajar, jika Allah menghendaki pandai tentu menjadi orang pandai. Atau tidak perlu bekerja, jika Allah menghendaki menjadi orang kaya tentulah kaya, dan seterusnya.
Semua itu sama saja dengan seorang yang sedang lapar perutnya, seklipun ada berbagai makanan, tetapi ia berpikir bahwa jika Allah menghendaki ia kenyang, tentulah kenyang. Jika pendapat ini dpegang teguh pasti akan menyengsarakan diri sendiri.
Menurut ajaran Islam, tawakkal itu adalah tumpuan terakhir dalam suatu usaha atau perjuangan. Jadi arti tawakkal yang sebenarnya -- menurut ajaran Islam -- ialah menyerah diri kepada Allah swt setelah berusaha keras dalam berikhtiar dan bekerja sesuai dengan kemampuan dalam mengikuti sunnah Allah yang Dia tetapkan.
Misalnya, seseorang yang meletakkan sepeda di muka rumah, setelah dikunci rapat, barulah ia bertawakkal. Pada zaman Rasulullah saw ada seorang sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lebih dahulu. Ketika ditanya, mengapa tidak diikat, ia menjawab, "Saya telah benar-benar bertawakkal kepada Allah". Nabi saw yang tidak membenarkan jawaban tersebut berkata, "Ikatlah dan setelah itu bolehlah engkau bertawakkal."

Senin, 05 Desember 2011

Riwayat ku

Teman-teman blogger....
Perkenalkan nama lengkap saya Suprapti, tapi saya biasa dipanggil Prapty. Asal saya dari Lombok-NTB, tepatnya di Lombok Timur. Saya dilahirkan dari sebuah keluarga tidak miskin tidak kaya tapi sederhana. Bapak saya seorang PNS (Guru) dan ibu saya berdagang. Dikeluarga, saya adalah anak ke tiga dari tiga bersaudara. Mengenai pendidikan saya, berawal dari sekolah dasar di sebuah sekolah dasar  tepatnya di SDN 3 Kesik, salah satu sekolah dasar di Lombok Timur. Setelah tamat dari sekolah dasar, saya melanjutkan pendidikan ke salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri di Lombok Timur juga, tepatnya di SMPN 1 Sikur. Kemudian, setelah tamat dari SMPN, saya melanjutkan pendidikan ke salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri, yaitu di SMAN 1 Sikur hingga selesai. Setelah tamat dari SMA saya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, di salah satu sekolah tinggi yang ada di Yogyakarta, tepatnya di STMIK EL Rahma Yogyakarta, dan saya mengambil salah satu jurusan yang ada di STMIK El Rahma Yogyakarta, yaitu jurusan Tekhnik Informatika.
Cukup sekian ya teman-teman saya berbagi riwayat hidup.....
Terimakasih..............^_^